DheRiTa

Aku bingung harus mulai dari mana. Semua rasa rasanya sudah berada di tepi. Menguak, menggumpal, seperti ingin meledak.

Aku sadar. Baru saja sadar jika aku telah hampir melupakan apa yang menjadi salah salah prioritas utamaku, apa yang menjadi salah satu fokusku, dan apa yang menjadi salah satu impianku. Apa yang telah aku genggam kuat, tak sekuat dulu genggamannya. Apa yang selama ini selalu ada di benak angan dan pikiranku pun memudar. Semua itu terjadi ketika aku menginjak dunia baru, ketika aku bertemu dengan hal-hal baru di dalamnya.

Aku salah. Salah menempatkan hal-hal baru itu di tempat yang sama, di ruang yang sama. Hingga apa yang telah tersimpan di ruangku terhimpit oleh hal-hal baru yang jumlahnya tak sebanding dengan sudah ada di dalam ruang. Hingga membuatku hampir lupa  dan pudar rasa terhadap apa yang telah tersimpan di dalam ruang itu.

Bersyukurlah aku karena Tuhan tidak membiarkan aku benar-benar lupa terhadap apa yang telah mengisi ruang itu dahulu. Impian, angan dan harapan juga orang-orang yang pernah menemani pelangi dan badai di hidupku. Terkecuali orang tua dan keluarga, secuil pun aku tak pernah lupa dengan mereka. Orang-orang yang kumaksudkan ada sahabatku, nsjm. Ya, aku hampir saja melupakan apa yang menjadi impian, angan, dan harapan. Hampir lupa dengan fokusku dan apa yang telah aku genggam. Juga aku hampir lupa dengan sahabatku sendiri. Hampir lupa untuk selalu menyayangi dam memeluk mereka dalam balutan doa ketika jarak menjauh dan waktu terbatas.

Aku memiliki tiga sahabat yang 360° terbalik dari apa yang kamu lihat dari luar hehehe… Aku dan Sahabatku terpisah oleh jarak karena demi terwujudnya impian, angan dan harapan. Benar-benar terpisah. Bukan hanya karena terpisah oleh tempat tinggal, tapi juga dunia di mana yang berisi tentang passion mereka dan juga kawan – kawan mereka. Entah kawan lama atau kawan baru. Terasa ada tembok masing – masing diantara kita.

Mungkin karena masanya yang telah tiba atau jarak, waktu dan dunia yang berbeda yang telah membuat kami seperti ini sekarang. Ya. Jarang kasih kabar apalagi cerita. Boro – boro ah. Alasan, “takut kamunya lagi sibuk” atau “takut kamunya nanti keganggu sama aku“. hmm suka sedih ari sudah begitu teh. Dulunya grup chat atau mention twitter suka rame, sekarang udah sepi. Sibuk masing – masing. Hafftttt…

Ada yang tiba-tiba keluar grup karena baperlah, ada yang keluar karena lagi ingin sendiri dan fokus dan lagi katanya aku punya A or B or Z, so I am happy. Jujur aja kesel setengah mati. Dikira kamu aja yang begitu? Dikira kamu aja yang mengalami semua yang terjadi dengan diri kamu? Gak terlintas ada juga orang yang sama kaya kamu sedang berjuang juga nahan pedih dan apalah itu tektekbengeknya? Pfffftttt…. Jangan naif. Jujur saja, bilang. Cerita. Kabarin. Gausah yang tiba-tiba yang tidak jelas yang kaya begitu. #lupakan. Kekesalan dahulu -_-

*tapi akhir akhir – akhir ini kalian buat aku kesal* huft 😦

Aku iri mendengar cerita teman – teman baruku di sini tentang persahabatan mereka. Rasanya ada banyak tidak sesuai-an yang ada dalam persahabatan kita. Aku merasa bahwa kita lebih banyak seneng bareng dari pada susah bareng. Maksudku adalah kenapa kita ngga selalu saling cerita tentang masalah apa pun itu secara media masa? (karena jarak). Atau memberi kabar apa pun ke aku atau ke yang lain? Bahkan aku heran tiba – tiba aku lihat kamu sudah dengan’nya’. Sedikit pun ngga ada kabar mengenai itu. Apa karena aku tidak terlibat di dalamnya? Atau karena memang tidak ada aku dan kita di dalam duniamu yang itu? atau yang lainnya?

Maaf. Aku bukan membanding – bandingkan. Aku tahu setiap hal atau hubungan memiliki perbedaannya tersendiri. Hanya saja aku sedang berbicara yang semestinya semua orang lakukan pada suatu ‘hal’ tersebut. Aku selalu ingin tahu apa saja kegiatanmu di luar sana dengan sekedar mengirim pap kalian. Ingin tahu kabar kalian, lagi sedih atau bahagiakah. Atau merasa sendu, galau dan gabut. Aku ingin tahu tentang kehidupan para sahabatku. Salahkah?

Sayangnya, aku hanya dapat melihat update-anmu yang  kamu bagi ke banyak orang. Terlihat asyik dengan teman dan dunia barumu. Entah yang kamu beri itu memang kau sedang benar – benar tersenyum bahagia atau malah kau sedang membuat kamuflase media klise yang kamu cantumkan di salah satu akun media sosial kalian. ‘Who knows’? 🙂

Terasa jauh dan sepi saat tak ada pesan atau telfon dari kalian. Aku merasa menjadi orang asing. Yang kamu panggil saat kau jatuh. Yang kamu abaikan saat kamu senang. Merasa terlupakan saat kau asyik dengan teman bahkan pacar atau dunia barumu. Abaikan. This is just a feeling. Kembali lagi, ini semua karena telah tiba masanya(?).

Aku ceritakanlah kalian pada salah satu teman dekatku di sini. Aku bilang jika kita sering bertengkar, debatin sesuatu yang emang seharusnya ngga didebatin, kadang ada yang diem kalo ada di antara kita yang berantem karena alesan cinta damai atau bahkan diem ngga ngapa – ngapain nunggu kepastian waktu bagaimana baiknya alur membawa pada keputusan akhir. Aku bilang bahwa akulah yang tertua di antara kita dan The Most yang suka nge-handle masalah bahkan harus berjuang sendiri (menurutmu?). Aku bilang jika aku berhenti tak berbuat apa pun pada ‘masalah’ kita, bisa aja tulisan ini ngga kaya gini dan malah ngga ada lalu bisa aja kita (maaf) bubar.  Bahkan temanku bilang dan mengira hal itu ‘akan’ dan bisa terjadi kalo kitanya kaya begitu- begitu aja. Apa – apa yang salah itu di tumpuk bukan diperbaiki. Saling diem karena beralasan menjaga perasaan. Tidak bisakah kita lebih terbuka lagi? Bukankah kita saling percaya satu sama lain?

Apa yang dikatakan temanku memang ada benarnya dan sempat menggoyahkan rasa percayaku pada kalian. Sempat beberapa lama aku meng-iyakan pendapatnya. Tapi ada sesuatu yang begitu kuat entah apa itu hingga bisa menepis apa pendapat temanku itu di kepalaku dan bersyukur aku masih mempercayai kalian. Masih mempercayai kalian yang jauh di sana. Masih mempercayai walau aku dan kalian masih begitu banyak kekurangan. Masih mempercayai walau kau membuatku merasa begitu jengkel (apakah engkau pun begitu padaku?).

Aku bilang kalo kamu itu orangnya kayak itu begini…. begitu…. sukanya ini dan ngga suka itu. Aku bilang bahwa kita berasal dari background yang sama. Sama – sama anak bungsu dan dulunya sama – sama seorang atlet. Sama – sama kalo dulunya pernah dikhianati sama ‘sahabat’ sendiri. Muehehehehe~ Aku cerita kalo kita di SMA itu masing – masing menempati kelas yang berbeda – beda. Padahal dulu kita ngarep di tempatkan di kelas yang sama. Sudah ngatur posisi duduk pula. Wkwkwkwk~ Aku juga cerita kalo kita terbentuk karena suatu organisasi. Aku juga cerita bagaimana kita living in school or in real daily life. Aku pun menunjukkan poto kalian kepada mereka kalo kamu orangnya tu yang ini dan dia yang itu. Masih banyak pokoknya ehe.

Btw, apakah kalian melakukan hal yang sama di sana seperti yang aku lakukan di sini yaitu menceritakan kisah kita?

Ah, aku tak tahu bagaimana kau di sana dengan teman barumu, dengan dunia barumu. Mungkin kau melakukan hal yang lebih gila yang pernah kita lakukan bersama atau melakukan hal yang lebih memorable dai pada yang pernah kita lakukan. Ya, bisa jadi. Aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan sapai tega kau mengabaikan pesanku. Ya, sempat. Aku mengerti, kamu, kalian terkadang masih terlalu ego. Mungkin juga denganku. Namun tak sebesar yang kalian lakukan. Jika aku melakukan sama, tulisan ini takan kalian baca bahkan kita pun sudah “tiada”. Apakah kalian mengerti ketika aku meminta kalian mendayung melawan arus bersamaku? Sebenarnya kalian paham, hanya saja langkahmu berat hingga kau hanya diam di tempat.

Kau tahu, di usia kita yang sekarang, mencari atau menemukan sahabat atau saudara yang benar – benar real itu tidak mudah. Sama halnya ketika kita mencari belahan jiwa kita, tidak mudah. Kalian pasti mengerti dengan apa yang aku maksud.

Ini tahun ke- Tiga kita.

Aku masih mengira – ngira apakah kita akan merayakannya bersama atau tidak seperti tahun lalu? Bahkan tahun lalu kita ngga merayakan ultah masing – masing dari kita. Hanya sekedar ucapan manis yang kita kirim melalui chat kita. Miris memang. Namun apalah daya kita yang terpisah oleh jarak. Mungkin pertemuan bakal menjadi kado terindah kita yang kita dapat di tahun ini. Tak perlu materi, begitu sederhana namun banyak sekali makna di dalamnya hingga kau pun tak sanggup mengucapkan kata apa pun.

Aku bertanya – tanya akan seperti apa pertemuan kita nanti? Akan tampak seperti apakah kalian setelah kita tak bertemu hampir satu tahun lamanya? Berapa banyak perubahan yang terjadi pada kalian? Aku sangat menantikan hari pertemuan kita.

Tak perlu kau tanya apakah aku masih peduli dengan kalian? Masihkah aku sayang pada kalian? Tak perlu kamu tanyakan itu padaku. Sungguh.

Aku harap kita saling belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Memperbaiki dan makin saling percaya dan juga peduli satu sama lain. Gausah cuek dan berpura tak tahu apa – apa. Kasihlah aku kabar tentang kalian atau kalian dengan pasanganmu atau tentang kalian dan keluarga kalian. 🙂

Aku senang kalian tak kesepian karena kalian ada yang menemani. Hmmm… sebenarnya aku tak suka. Aku lebih suka kalian putus saja dan lanjut ke pelaminan. Ehehe :3 Baik – baiklah kalian di sana. Aku mendoakan untuk kebaikan kalian di sini. Saling mendoakanlah kita ehe ^^

Semoga kita selalu bertemu dan kau selalu dalam lindungan-Nya. aamiin

Alevu, NOSEJAMS ❤

Advertisements

Tidak Jelas

Aku, gadis berusia yang akan menginjak ‘kepala dua’ ini merasa bahwa sudah terlau lama merasa hampa, like has lost way for life, merasa bosan dan aku merasa kosong. Bukan berarti tak ada Tuhan di hatiku, namun maafkan aku Tuhan, nampaknya hambaMu ini masih ada rasa cinta terhadap dunia yang sebenarnya hanyalah sebuah ilusi.

I look like heartless for everything and also for respond someones do. This is i really don’t want, for sure.

Memang seharusnya aku tak terlalu berharap pada seseorang bahkan kepada sahabat sekali pun. Saat berharap, kemungkinan yang kita terima yaitu sesuatu yang baik dari yang kau harapkan atau seuatu yang tidak baik dari yang kau harapkan atau bahkan kau menerima keduanya sekaligus. Notabenenya ternyata kita hanya menerima yang tidak baik atau yang benar – benar kita tidak harapkan. Aku rasa karena kita terlau fokus pada pengharapan itu yang seharusnya kita tak menaruh harapan padanya. Sebaiknya, kita hanya berharap pada Tuhan kita tentang apa ynga kita harapkan, berusaha lalu berpasrah kepadaNya. Sayangnya, ilmu yang aku punya belum setinggi para sufi. Akhirnya, aku selalu melakukan hal yang sama. Ya, hal yang baru aku sebutkan di atas. Apa hanya aku seorang?

Aku mulai bertanya – tanya, sebernarnya diantara waktu dan jarak, manakah yang paling kuat?

Manakah yang paling kuat hingga dapat merubah suatu hubungan?

Ini bukan hubungan yang seperti yang kau pikirkan. Lalu kau bertanya apa hubungan yang aku maksudkan?

Ah, apa yang ada di dalam diriku sekarang ini mungkin hanya kemungkinan atau memamng perasaanku saja. Hubungan yang aku maksudkan bukan tentang hubungan kekasih, tapi yang aku maksudkan adalah hubungan antara teman – temanku dan jua sahabat – sahabatku.

Dan aku kembali bertanya, manakah yang paling kuat antara waktu dan jarak? Atau ada hal lain selain kudua hal itu?

Aku merasa bahwa kehangatan antara mereka mulai terasa tidak terlalu kuat bahkan terasa hambar untukku. Ketika aku mencoba untuk nge-chat mereka dengan rasa antusias tapi aku mendapat balasan serata dinding rumah. Datar. Akhir – akhir ini aku merasa sepert itu. Tak seperti semula. Salahnya aku ya terlalu berharap bahwa es takkan dapat mencair di terik panas matahari, terlalu berharap bahwa aku dapat memperbaiki serpihan cermin(anku) kembali agar aku dapat merasakan sesuatu yang nyaman untuk waktu yang cukup lama, selamanya.

Aku sadar bahwa aku telah lama tak kembali ke kampung halamanku cukup lama. Aku sadar bahwa negeri perantauanku tak hanya membutuhkan kaki saja untuk menjununya dan untuk kembali ke negeri asal.

Aku pikir mereka akan sabar menanti kepulangannku, namun tak semua seperti itu. Aku pikir dengan pergiku mereka tak akan merubah kehangatan kami tapi apa yang dirasakan sekarang tak seperti yang aku harapkan. Kau pun tahu, aku bukan orang yang dapat pulang dengan waktu yang cukup sering. Ini berhubungan dengan keadaan finansialku, kau tahu itu. Di luar kehendakku, sebenarnya aku pun ingin berjupa dengan kalian.

Aku pikir kalian melakukan hal yang sama sepertiku, mempertahankan persahabatan kita, tapi diluar dugaanku kau diam tak melakukan apapun. Kembali lagi seperti dahulu, aku melakukannya sendirian. Sikapnya, membuatku ogah untuk kembali menemuinya. Daftar kunjunganku ketika aku pulang telah berubah, aku hanya akan kembali ke rumahku, bertemu dengan orang yang tak merubah kehangatannya yaitu keluarga terutama kedua orang tuaku.

Maafkan aku.

Sikapmu mempengaruhi tindakkanku. Aku akan kembali ketika aku telah merasa tenang dan kecewaku mereda. Aku takkan menemui kalian dengan keadaan aku yang seperti ini. Akan memakan waktu yang cukup lama untuk sembuh, tapi aku harap tak lama.

see you soon.

Aku Banget!!!

Apa yang aku pikirkan dan apa yang aku ingin ungkapkan kepada seseorang tak selalu tersampaikan dengan baik oleh kata, gesture dan mikro ekspresiku. Bahkan untuk mengekspresikannya terhadap diri sendiri pun kadang merasa kesulitan, tangan kaku untuk menuliskan dan mulut terasa beku untuk mengatakannya. Entah karena aku yang terlalu pasif atau memang aku belum bisa menyampaikan sesuatu hal dengan baik. Hingga kesan yang aku perlihatkan, orang selalu salah mengartikannya. Iya, selalu.

Menurutku, ada banyak cara untuk mengungkapkan isi perasaan atau isi pikiran kita. Salah satu cara yang aku lakukan adalah ini, menulisnya di blog yang seorang pun tak mengetahui blogku ini. Percuma -_-

Atau cara lainnya mere-tweet status pesan yang mewakili isi hati dan pikiran kalian, share dan like status orang lain di Facebook. Masih banyak lagi. Banyak user media sosial yang membagi curhatan dan isi pikirannya ke media sosial. Tujuannya sebagai pelajaran bagi seseorang atau sebagai penolong untuk mewakili perasaan kalian. Nah!

Dari salah satu akun instagram, aku menemukan Caption yang memang Aku Banget!!! Ini mewakali isi perasaan dan isi pikiranku kepada sahabatku yang jauh disana. Akan aku re-post di sini. ini dia…

SAHABAT DALAM KETAATAN

Kita tak lahir di tempat yang sama, bahkan hidup kita pun jauh berbeda. Sikap, sifat, gaya, cara kita sendiri, benci, murka, marah, duka pun tersendiri.

Tapi kita disatukan dengan impian yang sama. Diperjalankan dengan langkah yang tak berbeda, digandengkan dengan cita – cita tak ternilai, diikat dengan harga yang takkan terbeli.

Kerap kali kita berbeda pendapat dan berselisih. Bagiku aku benar, bagimu kamu lebih benar. Bagiku kamu salah, bagimu aku lebih salah. Begitukah kisah kita diuji, apakah karena Allah swt?

Berteman memang tak mudah, karena harus memahami. Berteman memang tak gampang, ada pengorbanan di sana. Terkadang aku berpikir haruskah sendiri berjalan? Sering kali aku tak tahan, mungkin lebih baik sendiri.

Menempuh perjalanan sendiri, selesai lebih lekas. Tak perlu memikirkan siapa pun, selain diri sendiri. Tak usah sakit hati, sebab tak dihiraukan dan dimengerti. Tapi itukah yang sebenarnya aku inginkan?

Tidak. Proses itulah sebenarnya harta, bukan hasil. Sebab semua siap dengan hasil, tapi tidak dengan proses. Kita bisa lebih cepat sendiri, tapi tidak akan jauh. Canda, tawa, ceria, duka, lara yang dibagi itulah arti.

Aku ditanya tentang arti engkau bagiku, aku pun tak tahu. Yang jelas bersamamu aku malu bermaksiat, aku jauh dari dosa. Dengan amalan dan tutur lisanmu aku lebih mudah mengingat Allah swt. Itulah arti engkau bagiku, sahabat dalam ketaatan.

Saat manusia di dalam kebingungan, saat kita semua dikumpulkan, senantiasa berharap engkau dan aku dipanggil oleh Allah Ar-Rahman. Diteduhkan kita dengan naungan-Nya, dilegakan kita dengan wajah-Nya. Dan dikatakan pada kita, dengan suara-Nya yang sudah kita duga “Dimanakah orang – orang yang saling mengasihi karena keagungan-Ku?”

“Masuklah surga, engkau dan sahabat yang engkau cintai karena Aku” “Dan yang lebih mencintai saudaranya, akan mendapatkan tempat lebih tinggi”

Dan saat itu, kau dan aku, kita, akan bersyukur telah mencitai karena-Nya. Uhibbum fillah, duhai saudaraku, sungguh aku mencintai kalian semua karena Allah swt.

–by : Felix Siauw–

Nah itu captionnya yang aku banget!!! Hingga aku menulisnya di sini. Aku harus menulisnya karena aku pikir suatu hari ini akan dibaca oleh sahabatku di sana. Sungguh ini tutur kata yang selama ini ingin aku ucapkan yang sudah terlalu lama mengendap di dalam diriku.

Akhirnya aku menuliskannya walau itu bukan murni buatanku. Namun aku bersyukur 🙂

History

hallo my damn true hell secret word!

i write this for my beloved friend “Gs”.

Terima kasih.

Satu ucapan yang mewakili begitu banyak hal yang telah kalian beri entah itu soal materi, kasih sayang, pengertian, kenyamanan, perhatian, dsb.

Maaf.

Satu ucapan yang mewakili banyak penyesalan dan kesalahan yang pernah aku lakukan kepada kalian.

Aku mengerti dan kalian jangan menyangkal. Di antara kalian, akulah yang sering berbuat salah entah soal pelajaran atau cara bersikapku terhadap kalian. Caraku yang membuat kalian bertanya-tanya dan abstrak untuk kalian ketahui. Tanpa sadar dan tak sengaja malah aku sering menyakiti kalian. Berbohong, bermain”kucing-kucingan” seperti yang kau bilang, masih kurang keterbukaannya aku, dan tak konsistennya aku. Sungguh aku maaf. Malah aku yang menyakiti orang yang paling aku percaya dan kau pun begitu padaku. Renggang. Dingin. Biasa. Asing. Tak nyaman. Seperti itulah jadinya.

Sebab? Mungkin aku pernah sakit olehmu karena aku melihatmu berteman dekat dengan yang lain. Mungkin dari situ aku mulai bersikap biasa saja. Tak berarti aku melarangmu untuk dekat yang lain. Seperti kau, aku juga bisa terlalu sayang dengan seseorang yang aku percaya. Tak pernah terjadi sebelumnya. Tak separah itu.

Aku melihatmu dengan mereka begitu dekat. Dan aku mulai bersikap biasa saja. Aku berpikir aku perlu melakukannya karena ketika memang pada saatnya kau memang aku bukan haluanmu lagi, sakit yang aku terima tak akan terlalu dalam. Dari situ, aku mulai mencari kebisingan yang akan meramaikan sepinya hati karena keramaianmu telah berpindah dariku. Aku pun tak berani bertanya apa yang salah padamu dan apa yang salah padaku. Karena itu, aku menunggu kau melakukannya kepadaku. Bukannya kau yang menepi malah kita malah yang makin merenggang. Kau menepi pada kenyamanan yang lain dan aku pun sama, tanpa kalian tahu, aku mencari kenyamanan yang lain. Aku hanya takut jika kalian tahu. Takut malah kita makin merenggang lagi.

Aku bergabung dengan clan yang lain dan bermain dengan mereka. Ya, aku merasa nyaman dan senang. Tapi entah mengapa terasa abu. Berbeda.

Aku, bukannya tak mau cerita pada kalian. Bukan aku tak percaya. Sungguh. Namun aku masih merasa canggung.

Aku, sebenarnya lebih menjaga perasaan kalian. Aku tak mau ketika aku bercerita tentang kebersamaan dengan clan itu kalian merasa ter-duakan olehku atau walau pun kau berkata tak apa-apa tapi aku tahu rasanya seperti apa. Bukanya aku bermain bermain secara sembunyi-sembunyi, aku takut perasaan kalian yang terluka. Bukan karena hal lain, hanya itu.

Soal aku yang pasif, maaf. Aku masih belum terbiasa untuk cerita langsung ke banyak orang. Aku pun memiliki penilaian dan pengamatanku tesendiri. Bukankah perasaan adalah suatu hal yang tak bisa dipaksakan? Dan aku masih merasa malu dan tak siap jika memang harus mengatakannya. Tanggapan kalian, aku takut dengan itu. Latar belakangku yang mungkin kalian tak akan menyangkanya. Entah masalah finansial atau masalah yang lain. Oh iya, maaf aku selalu menolak ketika kalian mengajakku tentang hal yang berbau dengan mengeluarkan rupiah. Karena memang aku tak berkelimpahan seperti kalian. Dan jika aku mengatakannya soal itu, aku tak mau kalian sampai melakukkan sesuatu untukku. Aku takut tak bisa membalasnya. Aku tak mau merepotkanmu.

Ah, saat ku tahu ‘kalian’ untuk memutuskan untuk berteman saja dengan ku dan tidak lebih dan tidak jua kurang, di saat itu juga aku tidak melihat ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Saat hari pertama aku masuk kuliah pun kalian menunjukkan bahwa memang kita telah ‘usai’. Tentu saja pedih untukku.

Baik. Semuanya hanya biasa saja. Aku terima, maaf karena ini salahku.

Ini karma untukku. Maka aku pun akan bersikap biasa, mungkin lebih dari sekedar biasa.

Dan tiba bahwa aku memutuskan untuk pindah kampus. Jelas, bukan karena kalian alasannya. Setidaknya kalian merasa tidak merasa risih atau merasa tidak enak dengan keberadaanku. Dan aku pun merasa sedikit lega.

thanks a lot. I will make sure that i won’t forget every little things that you’ve given to me.

See you later in happiness moment. SEE U ON TOP!

gs.

 

kepada : Warna Baru

06/12/2015

Aku tahu. Baru saja seumur jagung kita berkenalan, bermain, bercerita dan lain-lainnya.

Aku tahu. Pasti kau banyak menemukan sisi-sisiku yang tidak kau pahami atau yang kau pahami hingga kau temui sisi-sisiku yang sering membuat marah dan kesal. Ya, aku tidak sempurna. Sifatku jauh dari kata yang aku sebut tadi.

Begitu banyak sekali ketidakdewasaanku yang selalu membuatmu menahan apa itu yang disebut dengan rasa kesal, marah dan jijik. Ya, menahan emosi singkatnya.

Maaf

Aku pasif. Bahkan terlalu pasif.

Kesulitan untuk menjelaskan sesuatunya. Aku datar. Lebih datar dari jalan raya. Aku dingin. Lebih dingin dari kutub utara.Saat aku bermaksud bercerita, terkadang kau malah menanggap itu sebagai sesuatu hal yang membuatmu emosimu terpancing. Mungkin kau terlalu sensitive atau kau yang mudah terpancing. Mungkin kau yang belum jauh mengerti aku. Atau mungkin aku yang tidak tahu bagaimana bercerita dengan benar hingga selalu terkesan tak berniat untuk bercerita. Padahal aku try hard untuk bercerita. Kau tahu, sebelumnya aku tak se-open seperti orang lain. Karena aku baru mulai membiasakan.

Padahal aku yang selalu ingin melindungi, bukan dilindungi. Aku pasif, karena itu aku lebih suka langsung bertindak akan sesuatu hal untuk menjaga dan melindungi. Aku tak pandai melindungi secara lisan. Mungkin aku bisu.

Kebisuanku membuat orang lain salah paham. Ditambah denganku yang malas menjelaskan sesuatu hal untuk kedua kalinya. Aku malas untuk memperdebatkan sesuatu hal dan lebih suka mengalah hingga aku terlihat lemah.

Lebih suka mengalah. Ya. Apalagi dengan seseorang yang berharga untukku. Karena aku tak mau kehilangan seseorang yang berharga (lagi).

*Anganku selalu bermain. Anganku berharap. Berharap bahwa aku dapat di pahami. Ya. Tentang semua hal di atas. Hanya mengutarakan dan bercerita. (^-^) Bukan laporan hihihihihi…. Mungkin ini gayaku bercerita 🙂 *abaikan.

Alevu~

Untuk kau

Merah Muda.

 

Hujan

11/14/2015

Hati (perasaan) memang lebih ketus dari pada bibir. Lebih bersuara dari pada gaduhnya kota. Dan lalu dengan sendirinya ia membuat jemari tanganku lumpuh untuk menuliskan apa yang aku rasa. Otakpun kewalahan untuk menyusun kata. Sorot mataku tak henti memandangi huruf-huruf yang telah terbentuk menjadi kata lalu telah tersusun menjadi kalimat.

Alunan nada pun tak membantu untuk membuatku dapat mengutarakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Hanya sebagai pemicu. Mewakili tapi tidak dapat terwakili oleh suatu kalimat bahkan sebuah kata. Terlalu rumit jadinya. Terlalu abstrak dan tidak jelas. Orang lain berkata bahwa mereka sulit memahamiku dan lalu mengapa aku pun menjadi bagian dari mereka. Ya, aku sendiri tidak mengerti alur, arus dan jalan apa yang aku rasa. Sungguh buruk. Bukan suatu keuntungan untukku. Jelas.

Menurutmu apa hal yag paling menyedihkan? Ah, kenapa ku tanyakan hal ini. Padahal aku sendiri tak tahu apa yang menjadi sumber kesedihanku. Apakah ini karena kebiasaanku memendam sesuatu atau memang karena sifatku yang cuek badai hingga perasaan sendiri pun tak dihiraukan? Bodoh bukan? Ya, aku rasa begitu.

Satu hal yang selalu menjadi problematika diriku, yaitu jika aku selalu tak bisa menangisi sesuatu yang memang sudah seharusnya aku tangisi. Aku tak mudah menangis secara fisik hingga membuat orang bingung dan salah paham. Menganggapku tak memiliki perasaan atau tak dapat merasakan apa yang dia rasakan. Menganggapku sedang marah atau meresa tak dihiraukan olehku. Dan lalu terkadang mereka marah karena aku tiba-tiba diam. Padahal bukan begitu. Padahal hatiku menjerit dan merengek pedih. Menangis tersendu sendan hingga sesak menyapanya dan berat menimpanya.

Air mata yang menepi pada paras memang jalan yang paling ampuh bagi seseorang untuk menuangkan kesedihan dan membuatnya lega dari kesedihan. Tapi tidak untukku. Aku selalu kesulitan melakukannya. Titik bening itu hanya tergenang di mata dan tertahan di pelupuk mataku. Hanya membasahi bulu mataku bukan pipiku. Hatiku selalu berteriak memerintahkan untuk mengeluarkan air itu. Namun mataku terlalu tuli hingga tidak melakukan apa yang diminta oleh sang hati.

Karena hal itu mataku lebih sering memandang ke ruang ang dibatasi oleh kaca bening. Memandang sejuknya daun-daun hijau dan damainya ekosistem alam. Membuat makhluk hidup dan memberikan kesejukan serta keindahan tanpa keributan. Itu menjadi hal yang di sukai mataku. Kutopang mulutku karena ia lelah menunggu perintah pikiran hati karena tak tahu hal apa yang harus ia ubah menjadi suara bernada asa.

Hingga sang Hati dan sang Logika sangat menyukai sesuatu rahmat Tuhan yang dijatuhkan secara fisik kepada dunia. Kau tahu apa itu? Hujan. Air yang turun adalah hadiah untuk si mata dan guntur adalah hadiah untuk si mulut. Karena mata dapat menyelesaikan tugasnya untuk membasahi rinaiku dan mulut pun dapat menyelesaikan tugasnya, membuat orang tahu seberapa ketus dan kerasnya teriakkan hatiku.

Akhirnya kau kembali, di bulan aku terlahir. Membantu menyelesaikan tugas indra-indraku yang ‘tak bekerja’ dengan sempurna.
Terimakasih rintik rasa yang ku sebut kau…

Hujan.