Hujan

11/14/2015

Hati (perasaan) memang lebih ketus dari pada bibir. Lebih bersuara dari pada gaduhnya kota. Dan lalu dengan sendirinya ia membuat jemari tanganku lumpuh untuk menuliskan apa yang aku rasa. Otakpun kewalahan untuk menyusun kata. Sorot mataku tak henti memandangi huruf-huruf yang telah terbentuk menjadi kata lalu telah tersusun menjadi kalimat.

Alunan nada pun tak membantu untuk membuatku dapat mengutarakan apa yang sebenarnya aku rasakan. Hanya sebagai pemicu. Mewakili tapi tidak dapat terwakili oleh suatu kalimat bahkan sebuah kata. Terlalu rumit jadinya. Terlalu abstrak dan tidak jelas. Orang lain berkata bahwa mereka sulit memahamiku dan lalu mengapa aku pun menjadi bagian dari mereka. Ya, aku sendiri tidak mengerti alur, arus dan jalan apa yang aku rasa. Sungguh buruk. Bukan suatu keuntungan untukku. Jelas.

Menurutmu apa hal yag paling menyedihkan? Ah, kenapa ku tanyakan hal ini. Padahal aku sendiri tak tahu apa yang menjadi sumber kesedihanku. Apakah ini karena kebiasaanku memendam sesuatu atau memang karena sifatku yang cuek badai hingga perasaan sendiri pun tak dihiraukan? Bodoh bukan? Ya, aku rasa begitu.

Satu hal yang selalu menjadi problematika diriku, yaitu jika aku selalu tak bisa menangisi sesuatu yang memang sudah seharusnya aku tangisi. Aku tak mudah menangis secara fisik hingga membuat orang bingung dan salah paham. Menganggapku tak memiliki perasaan atau tak dapat merasakan apa yang dia rasakan. Menganggapku sedang marah atau meresa tak dihiraukan olehku. Dan lalu terkadang mereka marah karena aku tiba-tiba diam. Padahal bukan begitu. Padahal hatiku menjerit dan merengek pedih. Menangis tersendu sendan hingga sesak menyapanya dan berat menimpanya.

Air mata yang menepi pada paras memang jalan yang paling ampuh bagi seseorang untuk menuangkan kesedihan dan membuatnya lega dari kesedihan. Tapi tidak untukku. Aku selalu kesulitan melakukannya. Titik bening itu hanya tergenang di mata dan tertahan di pelupuk mataku. Hanya membasahi bulu mataku bukan pipiku. Hatiku selalu berteriak memerintahkan untuk mengeluarkan air itu. Namun mataku terlalu tuli hingga tidak melakukan apa yang diminta oleh sang hati.

Karena hal itu mataku lebih sering memandang ke ruang ang dibatasi oleh kaca bening. Memandang sejuknya daun-daun hijau dan damainya ekosistem alam. Membuat makhluk hidup dan memberikan kesejukan serta keindahan tanpa keributan. Itu menjadi hal yang di sukai mataku. Kutopang mulutku karena ia lelah menunggu perintah pikiran hati karena tak tahu hal apa yang harus ia ubah menjadi suara bernada asa.

Hingga sang Hati dan sang Logika sangat menyukai sesuatu rahmat Tuhan yang dijatuhkan secara fisik kepada dunia. Kau tahu apa itu? Hujan. Air yang turun adalah hadiah untuk si mata dan guntur adalah hadiah untuk si mulut. Karena mata dapat menyelesaikan tugasnya untuk membasahi rinaiku dan mulut pun dapat menyelesaikan tugasnya, membuat orang tahu seberapa ketus dan kerasnya teriakkan hatiku.

Akhirnya kau kembali, di bulan aku terlahir. Membantu menyelesaikan tugas indra-indraku yang ‘tak bekerja’ dengan sempurna.
Terimakasih rintik rasa yang ku sebut kau…

Hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s