DheRiTa

Aku bingung harus mulai dari mana. Semua rasa rasanya sudah berada di tepi. Menguak, menggumpal, seperti ingin meledak.

Aku sadar. Baru saja sadar jika aku telah hampir melupakan apa yang menjadi salah salah prioritas utamaku, apa yang menjadi salah satu fokusku, dan apa yang menjadi salah satu impianku. Apa yang telah aku genggam kuat, tak sekuat dulu genggamannya. Apa yang selama ini selalu ada di benak angan dan pikiranku pun memudar. Semua itu terjadi ketika aku menginjak dunia baru, ketika aku bertemu dengan hal-hal baru di dalamnya.

Aku salah. Salah menempatkan hal-hal baru itu di tempat yang sama, di ruang yang sama. Hingga apa yang telah tersimpan di ruangku terhimpit oleh hal-hal baru yang jumlahnya tak sebanding dengan sudah ada di dalam ruang. Hingga membuatku hampir lupa  dan pudar rasa terhadap apa yang telah tersimpan di dalam ruang itu.

Bersyukurlah aku karena Tuhan tidak membiarkan aku benar-benar lupa terhadap apa yang telah mengisi ruang itu dahulu. Impian, angan dan harapan juga orang-orang yang pernah menemani pelangi dan badai di hidupku. Terkecuali orang tua dan keluarga, secuil pun aku tak pernah lupa dengan mereka. Orang-orang yang kumaksudkan ada sahabatku, nsjm. Ya, aku hampir saja melupakan apa yang menjadi impian, angan, dan harapan. Hampir lupa dengan fokusku dan apa yang telah aku genggam. Juga aku hampir lupa dengan sahabatku sendiri. Hampir lupa untuk selalu menyayangi dam memeluk mereka dalam balutan doa ketika jarak menjauh dan waktu terbatas.

Aku memiliki tiga sahabat yang 360° terbalik dari apa yang kamu lihat dari luar hehehe… Aku dan Sahabatku terpisah oleh jarak karena demi terwujudnya impian, angan dan harapan. Benar-benar terpisah. Bukan hanya karena terpisah oleh tempat tinggal, tapi juga dunia di mana yang berisi tentang passion mereka dan juga kawan – kawan mereka. Entah kawan lama atau kawan baru. Terasa ada tembok masing – masing diantara kita.

Mungkin karena masanya yang telah tiba atau jarak, waktu dan dunia yang berbeda yang telah membuat kami seperti ini sekarang. Ya. Jarang kasih kabar apalagi cerita. Boro – boro ah. Alasan, “takut kamunya lagi sibuk” atau “takut kamunya nanti keganggu sama aku“. hmm suka sedih ari sudah begitu teh. Dulunya grup chat atau mention twitter suka rame, sekarang udah sepi. Sibuk masing – masing. Hafftttt…

Ada yang tiba-tiba keluar grup karena baperlah, ada yang keluar karena lagi ingin sendiri dan fokus dan lagi katanya aku punya A or B or Z, so I am happy. Jujur aja kesel setengah mati. Dikira kamu aja yang begitu? Dikira kamu aja yang mengalami semua yang terjadi dengan diri kamu? Gak terlintas ada juga orang yang sama kaya kamu sedang berjuang juga nahan pedih dan apalah itu tektekbengeknya? Pfffftttt…. Jangan naif. Jujur saja, bilang. Cerita. Kabarin. Gausah yang tiba-tiba yang tidak jelas yang kaya begitu. #lupakan. Kekesalan dahulu -_-

*tapi akhir akhir – akhir ini kalian buat aku kesal* huft 😦

Aku iri mendengar cerita teman – teman baruku di sini tentang persahabatan mereka. Rasanya ada banyak tidak sesuai-an yang ada dalam persahabatan kita. Aku merasa bahwa kita lebih banyak seneng bareng dari pada susah bareng. Maksudku adalah kenapa kita ngga selalu saling cerita tentang masalah apa pun itu secara media masa? (karena jarak). Atau memberi kabar apa pun ke aku atau ke yang lain? Bahkan aku heran tiba – tiba aku lihat kamu sudah dengan’nya’. Sedikit pun ngga ada kabar mengenai itu. Apa karena aku tidak terlibat di dalamnya? Atau karena memang tidak ada aku dan kita di dalam duniamu yang itu? atau yang lainnya?

Maaf. Aku bukan membanding – bandingkan. Aku tahu setiap hal atau hubungan memiliki perbedaannya tersendiri. Hanya saja aku sedang berbicara yang semestinya semua orang lakukan pada suatu ‘hal’ tersebut. Aku selalu ingin tahu apa saja kegiatanmu di luar sana dengan sekedar mengirim pap kalian. Ingin tahu kabar kalian, lagi sedih atau bahagiakah. Atau merasa sendu, galau dan gabut. Aku ingin tahu tentang kehidupan para sahabatku. Salahkah?

Sayangnya, aku hanya dapat melihat update-anmu yang  kamu bagi ke banyak orang. Terlihat asyik dengan teman dan dunia barumu. Entah yang kamu beri itu memang kau sedang benar – benar tersenyum bahagia atau malah kau sedang membuat kamuflase media klise yang kamu cantumkan di salah satu akun media sosial kalian. ‘Who knows’? 🙂

Terasa jauh dan sepi saat tak ada pesan atau telfon dari kalian. Aku merasa menjadi orang asing. Yang kamu panggil saat kau jatuh. Yang kamu abaikan saat kamu senang. Merasa terlupakan saat kau asyik dengan teman bahkan pacar atau dunia barumu. Abaikan. This is just a feeling. Kembali lagi, ini semua karena telah tiba masanya(?).

Aku ceritakanlah kalian pada salah satu teman dekatku di sini. Aku bilang jika kita sering bertengkar, debatin sesuatu yang emang seharusnya ngga didebatin, kadang ada yang diem kalo ada di antara kita yang berantem karena alesan cinta damai atau bahkan diem ngga ngapa – ngapain nunggu kepastian waktu bagaimana baiknya alur membawa pada keputusan akhir. Aku bilang bahwa akulah yang tertua di antara kita dan The Most yang suka nge-handle masalah bahkan harus berjuang sendiri (menurutmu?). Aku bilang jika aku berhenti tak berbuat apa pun pada ‘masalah’ kita, bisa aja tulisan ini ngga kaya gini dan malah ngga ada lalu bisa aja kita (maaf) bubar.  Bahkan temanku bilang dan mengira hal itu ‘akan’ dan bisa terjadi kalo kitanya kaya begitu- begitu aja. Apa – apa yang salah itu di tumpuk bukan diperbaiki. Saling diem karena beralasan menjaga perasaan. Tidak bisakah kita lebih terbuka lagi? Bukankah kita saling percaya satu sama lain?

Apa yang dikatakan temanku memang ada benarnya dan sempat menggoyahkan rasa percayaku pada kalian. Sempat beberapa lama aku meng-iyakan pendapatnya. Tapi ada sesuatu yang begitu kuat entah apa itu hingga bisa menepis apa pendapat temanku itu di kepalaku dan bersyukur aku masih mempercayai kalian. Masih mempercayai kalian yang jauh di sana. Masih mempercayai walau aku dan kalian masih begitu banyak kekurangan. Masih mempercayai walau kau membuatku merasa begitu jengkel (apakah engkau pun begitu padaku?).

Aku bilang kalo kamu itu orangnya kayak itu begini…. begitu…. sukanya ini dan ngga suka itu. Aku bilang bahwa kita berasal dari background yang sama. Sama – sama anak bungsu dan dulunya sama – sama seorang atlet. Sama – sama kalo dulunya pernah dikhianati sama ‘sahabat’ sendiri. Muehehehehe~ Aku cerita kalo kita di SMA itu masing – masing menempati kelas yang berbeda – beda. Padahal dulu kita ngarep di tempatkan di kelas yang sama. Sudah ngatur posisi duduk pula. Wkwkwkwk~ Aku juga cerita kalo kita terbentuk karena suatu organisasi. Aku juga cerita bagaimana kita living in school or in real daily life. Aku pun menunjukkan poto kalian kepada mereka kalo kamu orangnya tu yang ini dan dia yang itu. Masih banyak pokoknya ehe.

Btw, apakah kalian melakukan hal yang sama di sana seperti yang aku lakukan di sini yaitu menceritakan kisah kita?

Ah, aku tak tahu bagaimana kau di sana dengan teman barumu, dengan dunia barumu. Mungkin kau melakukan hal yang lebih gila yang pernah kita lakukan bersama atau melakukan hal yang lebih memorable dai pada yang pernah kita lakukan. Ya, bisa jadi. Aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan sapai tega kau mengabaikan pesanku. Ya, sempat. Aku mengerti, kamu, kalian terkadang masih terlalu ego. Mungkin juga denganku. Namun tak sebesar yang kalian lakukan. Jika aku melakukan sama, tulisan ini takan kalian baca bahkan kita pun sudah “tiada”. Apakah kalian mengerti ketika aku meminta kalian mendayung melawan arus bersamaku? Sebenarnya kalian paham, hanya saja langkahmu berat hingga kau hanya diam di tempat.

Kau tahu, di usia kita yang sekarang, mencari atau menemukan sahabat atau saudara yang benar – benar real itu tidak mudah. Sama halnya ketika kita mencari belahan jiwa kita, tidak mudah. Kalian pasti mengerti dengan apa yang aku maksud.

Ini tahun ke- Tiga kita.

Aku masih mengira – ngira apakah kita akan merayakannya bersama atau tidak seperti tahun lalu? Bahkan tahun lalu kita ngga merayakan ultah masing – masing dari kita. Hanya sekedar ucapan manis yang kita kirim melalui chat kita. Miris memang. Namun apalah daya kita yang terpisah oleh jarak. Mungkin pertemuan bakal menjadi kado terindah kita yang kita dapat di tahun ini. Tak perlu materi, begitu sederhana namun banyak sekali makna di dalamnya hingga kau pun tak sanggup mengucapkan kata apa pun.

Aku bertanya – tanya akan seperti apa pertemuan kita nanti? Akan tampak seperti apakah kalian setelah kita tak bertemu hampir satu tahun lamanya? Berapa banyak perubahan yang terjadi pada kalian? Aku sangat menantikan hari pertemuan kita.

Tak perlu kau tanya apakah aku masih peduli dengan kalian? Masihkah aku sayang pada kalian? Tak perlu kamu tanyakan itu padaku. Sungguh.

Aku harap kita saling belajar dari kesalahan yang pernah kita lakukan. Memperbaiki dan makin saling percaya dan juga peduli satu sama lain. Gausah cuek dan berpura tak tahu apa – apa. Kasihlah aku kabar tentang kalian atau kalian dengan pasanganmu atau tentang kalian dan keluarga kalian. 🙂

Aku senang kalian tak kesepian karena kalian ada yang menemani. Hmmm… sebenarnya aku tak suka. Aku lebih suka kalian putus saja dan lanjut ke pelaminan. Ehehe :3 Baik – baiklah kalian di sana. Aku mendoakan untuk kebaikan kalian di sini. Saling mendoakanlah kita ehe ^^

Semoga kita selalu bertemu dan kau selalu dalam lindungan-Nya. aamiin

Alevu, NOSEJAMS ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s